Pancaran Cahaya Dhuha untuk Kehidupanmu

Sababun Nuzul surah Ad-Dhuha:
Kaum musyrik menentang risalah dengan melakukan banyak hal, salah satunya ialah dengan mengejek Rasulullah. Inilah yang menjadi sababun nuzul surah ini, yaitu saat pada satu atau dua malam, Rasulullah tidak mendirikan shalat malam karena sakit. Orang musyrik pun berkata mengejek pada Rasulullah, “Sepertinya Tuhanmu sudah meninggalkan dan melupakanmu, sehingga kamu sudah tidak sanggup beribadah lagi.”
_Dari mana kaum musyrik tahu kalau Rasulullah tidak qiyamullail?_
Hal ini karena meskipun kaum musyrik membenci dakwah Nabi, mereka senang mendengarkan diam-diam bacaan Qur’an Nabi. Maka mereka heran ketika satu atau dua malam tidak mendengar bacaan Qur’an Nabi.
Seorang tokoh Quraisy, Walid bin Mughirah sampai menyebutkan Qur’an itu bacaan yang indah dan manis. Dan begitulah Quran, ia mengambil hati seseorang tanpa ia menyadarinya.
Pada akhirnya, Walid membuat keputusan bahwa Al-Qur’an hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), dan perkataan manusia. (surah Al-Muddatsir: 24-25)
Dan begitulah karakter musuh Islam, ia membuat pelabelan terhadap umat Islam agar orang-orang menjauhi Islam. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Misalnya, lihatlah efek dari robohnya menara WTC. Masyarakat barat justru semakin penasaran dengan Islam. Begitu pula dengan rencana kaum orientalis yang ingin menyerang Islam dari sisi hadits. Mereka membuat sebuah buku indeks hadits untuk mencari kontradiksi antara hadits-hadits. Namun apa yang terjadi? Buku indeks itu justru sangat bermanfaat bagi umat Islam yang belajar di bidang hadits (sebelum munculnya komputer).
Nabi Muhammad sebenarnya sudah biasa diejek oleh kaum kafir, tapi mengapa ejekan kaum kafir kali ini membuat Nabi sangat sedih? Jawabannya ada tiga, yaitu:
1. Karena wahyu saat itu berhenti turun
2. Karena kalimat ejekan itu sampai pula ke telinga sahabat, dan Rasulullah mengkhawatirkan sahabat dapat terpengaruh dengan kalimat tersebut
3. Karena kalimat ejekan itu (kemarahan Allah) merupakan hal yang paling Rasulullah takuti. Sebagaimana doa Rasulullah sepulang dari dakwah di Thaif.
Oleh karenanya Allah menjawab dengan menurunkan surah Adh-Dhuha.
وَالضُّحَىٰ
_Demi waktu Dhuha (1)_
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
_Dan demi malam apabila telah sunyi (2)_
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
_Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (3)_
Sumpah Demi Dhuha merupakan sumpah penguat. Dan ulama menggariskan bahwa setiap kali Allah bersumpah dengan makhluknya, itu berarti kita harus benar-benar memperhatikan, ada apa dengan makhluk yang Allah jadikan sumpah tersebut?
Dhuha ialah pancaran terkuat matahari dan malam ialah puncak terpekatnya. Waktu dhuha ialah saat semua orang beraktivitas dan malam ialah saat semua orang beristirahat. Mengapa Allah bersumpah dengan dhuha dan lail untuk memberikan kabar di ayat 3?
Dhuha ialah saat manusia berdiri dari duduknya ketika sudah mulai panas. Allah ingin memulai dengan menghibur nabi-Nya. Maka penting sekali bagi kita untuk menghibur diri saat sudah lelah dalam beraktivitas atau merasa sedih. Jangan sampai kelelahan atau kesedihan itu berlarut-larut.
Waktu dhuha ialah waktu saat orang bergerak dan aktif. Seolah Allah ingin berkata, “Wahai Muhammad janganlah sedih! Lihatlah cahaya dhuha yang terang! Lihatlah semua orang bergerak!”
Allah bersumpah dengan waktu dhuha karena keistimewaan waktu ini. Sebab tidak semua waktu Allah jadikan sumpah. Allah ingin mengabarkan cintanya pada Rasulullah dengan memberikan penguat dulu di awal, yaitu dengan sumpah.
Waktu dhuha ialah puncak aktivitas manusia, karena memasuki waktu zhuhur kita sudah mulai capek, apalagi masuk waktu ashar.
Setelah bersumpah dengan dhuha, mengapa Allah melanjutkan sumpahnya dengan laili idza sajaa (malam yang sunyi dan pekat)? Dan waktu yang paling sunyi ialah ketika malam memasuki waktu sepertiga yang terakhir.
Allah bersumpah dengan malam seperti memberi isyarat pada Nabi bahwa Allah masih memberikan malam yang sunyi untuk Nabi beribadah, karena sebelumnya Nabi tidak bisa qiyamullail. Dan begitulah orang beriman, ia akan merasa sedih saat tidak bisa bangun untuk qiyamullail.
Sumpah ini juga menjadi perbandingan antara terangnya risalah yang Rasulullah bawa dengan gelapnya kejahiliyahan kaum kafir.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
_Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (3)_
Di dalam bahasa Arab, ayat ini harusnya berbunyi _ma wadda’aka wa maa qolaka._ Mengapa huruf ك Allah hilangkan di sini?
Para ulama menyampaikan, ayat ini adalah ayat hiburan dan ayat yang menenteramkan. Perpisahan (wadda’a) sangat mungkin terjadi pada orang yang saling mencintai. Akan tetapi, cinta tidak mungkin bergabung dengan kemarahan. Makanya Allah tidak menaruh huruf ك (yang berarti Engkau, Muhammad) untuk menggandeng kata marah. Bahkan Allah menghibur Nabi sampai persoalan bahasa.
Ketika ingin memahami sebuah surah, para ulama menyebutkan bahwa pahamilah suasana utama dari surah tersebut. Dan suasana surah ini ialah suasana hiburan untuk Nabi.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
_Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (4)_
Di ayat ini Allah hendak mengabarkan bahwa keadaan Rasulullah akan lebih baik dari hari ke hari. Seperti Kota Madinah Allah jadikan lebih baik dari Makkah (disebabkan doa Rasulullah agar Madinah diberi keberkahan dua kali lipat dari Makkah). Makkah pada awalnya memang lebih baik, namun akhir Madinah lebih baik.
Puncak dari prestasi dari dakwah ialah saat manusia beramai-ramai mendapatkan hidayah. Itulah yang Allah isyaratkan dalam surah An-Nashr. Sebagaimana puncak kebesaran Rasulullah ialah saat wafatnya beliau, meninggalkan dunia menuju Rabb-nya.  Saat itu seluruh jazirah telah masuk Islam.
Pelajaran mahal bagi kita ialah bahwa grafik kehidupan kita dari hari ke hari haruslah terus naik. Jika turun, maka harus kita evaluasi dengan serius. Karena begitulah grafik kehidupan Nabi, beliau tambah baik dari hari ke hari, dan hari terbaiknya ialah saat beliau menemui Allah.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
_Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (5)_
Di ayat ini ada penguat (wala) dan penunda (saufa). Maksudnya ialah PASTI, tapi BERSABARLAH! Apa yang pasti tapi nanti bagi Rasulullah? Itulah pemberian dari Allah. Maka Nabi terbiasa bersabar, dan begitu pula para sahabat. Untuk memahami sabarnya sahabat, bacalah kisah Suraqah yang dijanjikan Nabi akan memakai dua gelang Kisra.
Allah menunjukkan cinta-Nya pada makhluk terbaiknya, yaitu Rasulullah. Dan ketika Allah sudah mencintai, Allah pasti akan memberi. Maka yang penting bagi kita ialah menjadikan kita dicintai oleh Allah. Jika Allah sudah mencintai, jangankan harta, seluruh bumi pun akan Allah berikan. Kejarlah cinta Allah.
Kadangkala ada orang yang diberikan sesuatu namun ia tidak puas/ridho. Akan tetapi, apa yang Allah berikan pada Rasulullah ialah sesuatu yang sampai membuat Rasulullah puas dan ridho. Allah memberikan Rasulullah para sahabat yang membuat Rasulullah ridho, tidak seperti Nabi Musa yang kaumnya susah diatur.
Yang menarik, surah ini memiliki keterkaitan satu sama lain antar ayatnya. Ayat 3 berkaitan dengan ayat 6 dan 9, ayat 4 berkaitan dengan ayat 7 dan 10, ayat 5 berkaitan dengan ayat 8 dan 11.
Ayat 3: مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
Ayat 6: أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Ayat 9: فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Maksudnya, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula marah. Sebagaimana Allah melindungimu saat engkau yatim (dengan menjadikan Abdul Muthalib dan Abu Thalib sebagai pengasuhmu). Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau menghardiknya.
Ayat 4: وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Ayat 7: وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
(dhollan di sini bukanlah sesat. Maksudnya ialah bahwa Nabi tahu masyarakatnya salah, namun tidak tahu cara memperbaikinya)
Ayat 10: وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
Maksudnya, keadaanmu di awal baik, namun lebih baik yang akhir. Keadaanmu saat belum mendapat petunjuk baik, namun lebih baik  saat menjadi petunjuk. Maka janganlah engkau menghardik orang yang meminta petunjuk kepadamu.
Ayat 5: وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
Ayat 8: وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Ayat 11: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Melihat pola sebelumnya, silakan cari korelasi antara tiga ayat ini!
Maksud dari ayat 11, _dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan._, menyampaikan nikmat bukanlah untuk kesombongan. Nikmat itu disampaikan agar kita bisa berbagi. Berbuat baiklah, sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Contoh orang yang menyembunyikan nikmat, misalnya ada orang yang tidak mau dipinjami uang (bilangnya tidak ada), padahal ia baru saja mendapatkan nikmat harta dari Allah.
7 Ramadhan 1437/12 Juni 2016
(Ustadz Budi Ashari, Lc.)
Previous
Next Post »