Kepada Alam yang Tak Lama Lagi

Bahkan cahayanya kadang tak sampai
Setiap sisinya kau tak melihat keagungannya
Dia tak lagi sempurna
Tak berhias bahkan buruk rupa . . .

Tanah yang dulu ku daki . . . lenyap . . .
Hilang tak meninggal,
Mati tak dibunuh,
Tapi pergi untuk menguji . . .diri hati insani

Tak ada yang mencium kala ia hendak pergiu
Dia terliat bagai peri
Tapi kembali bunuh diri
Angin yang terhembuspun tak lama lagi

Aku sungguh datang padanya
Kala aku membersihkan wajahnya dair noda
Aku melihat tetes air mata. Masih basah dan baru . . .
Dia menangis . . . dalam mimpiku

Kembali menangis
Aku melohat mereka habis, tapi ku terdiam
Mereka tidak bernoda, kita bernoda dan kita memberi noda
Kembalikan hijau sang para peri hai anak babi . . .

Sama seperti ternak yang hanya bisa mengais an merusak
Angkat dan kembali jatuhkan wajah,
Lihat dia yang terkulai lemah tak berdaya karena mu
Aku salah, kitra salah dan tak ada yang saling menyalah . . .

Tak ada yang hijau bila tak ada yang putih
Tak kan ada manusia bila tak ada sang peri
Dalam keluh akan tersenyum menanti lahirnya suatu haru,
Akan belaian penuh untaian malu

{Ku tulis dari keprihatinanku pada alam yang tak lama lagi . . .}

Cahaya Hujan
Previous
Next Post »